Pak, Saya Lapar! (1)

"pak saya lapar!"

"Bu saya lapar!"

"Pak saya lapar!"

"Bu saya lapar!"

Laki-laki kurus berkulit gelap duduk lemah di lorong menju stasiun. Sambil meronta meminta bantuan dia mengayun-ayunkan kan tangannya ke mulut. Satu tangan lainnya memegangi perut. Puluhan atau mungkin ratusan orang hilir mudik di lorong tersebut, tapi tak ada satu pun yang menggubris. Begitu pun dengan beberapa penjual makanan yang ikut mencari nafkah di sekitar lorong tersebut, bergeming tak menggubrisnya sama sekali.

Aku yakin dalam hatinya, lelaki tersebut sedang menggerutu atau bahkan mencaci maki para pejalan kaki. "Sialan, gaji doank lu gede, kerja di Jakarta, tiap hari pulang malem, ngasih gua duit dua rebu aja kagak bisa!" Bisa jadi itu umpatan si lelaki kurus tadi. Atau sumpah serapah yang lebih parah dari itu, "gua doain besok lu pada dipecat!"

Sengaja aku membeli siomay yang ramai dikunjungi penumpang kereta yang baru turun. Pedagang siomay tersebut tepat berada di dekat si lelaki kurus. Saya beli satu porsi, lalu saya berikan padanya.

 "Nih pak, kalo laper!" Ucapku sambil menyodorkan sepiring siomay. Dia pun menerimanya sambil menatapku nanar. Aku tidak bisa menebak apa yang ada dalam pandangannya.

"Makan, pak!" Ujarku meyakinkannya.

Dia pun mulai memakan sendok demi sendok makanan yang kuberi. Sesekali tersedak karena dia terlalu terburu-buru makan siomay tersebut. Aku pun sigap mengeluarkan air mineral dari dalam tasku. Setelah dia selesai makan, aku mulai coba membuka obrolan padanya.

"Saya sering lewat sini, tapi baru liat bapak sekarang ini. Orang mana pak aslinya?"

"Bogor, mas" jawabnya lemah

"Oh Bogor.... Ada keluarga di sini?"

" Ga ada mas....."

"Abis ini mau ke Bogor?"

"Ga tau mas..." Dia tampak menghela napas

"Saya bingung mas, di Bogor pun saya diusir. Mungkin saya aneh, dianggap gila oleh mereka" suaranya mulai sedikit bergetar ketika menceritakan asalnya.

"Saya ga tau mau kemana, saya cuma bisa jalan aja ngikutin rel ini....rasanya saya sudah males hidup!" Dia pun mulai putus asa dengan semua angannya

"Saya tidak jago menasehati pak, tapi ngomong gitu itu ga baik" jawabku sedikit menenangkannya.

"Iya saya tahu itu....tapi saya sudah tidak kuat melihat keegoisan manusia sekarang. Saudara sendiri mereka hancurkan hidupnya" dia sedikit membuka apa yang dialaminya

"Katanya berpendidikan, sekolah tinggi-tinggi cuma buat bunuh orang kayak saya. Udah ga ada yang namanya peduli sesama. Cuma ngomong doang!" Napasnya panjang. Sepertinya memang sangat berat cerita yang sedang dia simpan

"Semua orang yang lewat sini pasti ngiranya saya boongan, ngira saya punya duit banyak hasil ngemis. Mereka gak akan tahu rasanya jadi manusia yang dimangsa manusia, manusia yang dimangsa sodara ya sendiri." 


Sumber gambar googleimage

Cerita ini bisa dibaca di : Pak, Saya Lapar! (1)