Pertemanan yang bahagia

Mark Twain, seorang penulis legendaris Amerika Serikat pernah bilang, "Saya tidak suka dengan perkelahian. Jika saya memiliki musuh, saya akan memaafkannya, membawanya ke tempat gelap lalu menghabisinya di sana."


Kata-kata Mark Twain ini bisa saja terdengar sadis untuk beberapa orang, dan menganggap tindakan semacam itu cuma bisa dilakukan seorang psikopat. Namun, coba pikir, sudah berapa kali anda menemukan beberapa teman yang ada saat mereka susah dan hilang saat anda membutuhkan mereka? Sayangnya anda tidak bisa apa-apa karena mereka teman, bukan musuh anda. Lalu anda cuma bisa diam, mencoba memaklumi dan memaafkan ketidakpedulian mereka untuk anda. Itu membahagiakan.


Ada lagi ciri bagus yang ada dari pertemanan bahagia. Saat ada seorang teman memuji kita, menyanjung dengan amat sangat di depan, lalu kita dengar cerita mereka tentang aib kita dari orang lain. Nah, kita harus bangga kalo punya teman seperti ini. Kapan lagi, kan, jadi terkenal karena aib dibongkar.


Saya ada banyak dengar orang yang kalo di cerita buruk, bilang begini, "Kalo mau cerita keburukan orang jangan dari belakang dong, dari depan kalo berani!!" Ini konyol menurut saya. Cuma gara-gara emosi, sampai mengeluarkan kalimat itu. Ya, tentu saja mereka tidak berani, orang tiap hari saja mukanya dipakein topeng, apalagi mau jujur!!!


Pertemanan bisa saja terjadi cuma dengan bertemu orang lain di tempat di manapun, bedanya, persahabatan terwujud dari saling tahu keburukan masing-masing tapi tetap saling menerima. Kalo kita bertemu orang lain dan jadi teman, jangan buru-buru dijadikan sahabat. Perhatikan dulu kebiasaannya, baik-buruknya, kalo sudah dan kita bisa maklum, baru kita masukkan dalam daftar sahabat. Maklumi dan maafkan setiap perilaku buruknya.


Sebenarnya untuk kata maaf, tidak harus kita teman atau bukan, cukup jadi manusia. Saya rasa sudah sepantasnya sebagai manusia, punya moral, norma, dan aturan lain yang terkait, memaafkan adalah keharusan. Cuma, jangan sampai kata 'maaf'  ini jadi ajang pembuktian seseorang paling benar. Itu tidak benar.


Pada akhirnya, perkelahian tidak selalu menjadikan orang saling bermusuhan. Bisa jadi itu cuma jalan untuk kata 'maaf' menguji kedewasaan manusia. Atau juga menguji pertemanan bahagia. Jadi, jangan ada yang bawa temannya ke tempat gelap, ya!!!



Cerita ini bisa dibaca di : Pertemanan yang bahagia