Simsalabim Abrahadabra!

Cuaca hari ini cukup cerah, secerah wajah dari para Bidadari khayangan yang baru aja kelar makeup. Di suatu tempat, di belahan bumi lain terdapat sebuat kota keramat bernama Abrahadabra. Di sana ada seorang ahli sulap tampan, setampan pangeran pada zaman Fir'aun yang bernama Katiman. 

Konon menurut mobile legend, eh? Menurut legenda setempat, Katiman mendapat keahlian sulap ketika ia tiba-tiba saja pingsan karena tersengat aliran cinta, eh aliran listrik. The KK, bukan kartu keluarga, bukan pula kartu kematian tapi Katiman korslet begitulah orang-orang menjulukinya.

Anyway and the siomay, Katiman pernah mendapatkan sebuah penghargaan bertuliskan 'lunas' yang tertato ungu tepat dibagian tengah keningnya.Yaps, penghargaan itu ia dapatkan ketika dirinya tengah berkunjung ke kantor PLN setempat untuk membayar tunggakan listrik selama setengah tahun.

Kalender berganti kalender, iklan sabun berganti iklan produk ponsel dan pacarpun berubah menjadi mantan, Katiman terlibat perang magic dengan Pak Parno salah satu ahli sulap yang sudah sepuh. Adu ilmu diantara keduanya terjadi. Ya, mereka saling pamer kemampuan, saling unjuk gigi di sebuah tempat misterius, tempat yang biasa dijadikan ajang uji kemampuan antara para pesulap, ajang pembuktian diri siapa yang paling hebat.

Acara tersebut di pandu host fenomenal yang bernama Heri Muter. Ya, seorang pembawa acara terkenal bertubuh tegap kayak pohon sawo, berkumis ikal dan memiliki tato bergambar telur naga di pahanya. "Tak perlu banyak basa-basi busuk lagi, langsung saja tunjukkan kemampuan kalian berdua!"

"Sekarang tunjukkan gigimu! Kalau kau punya nyali anak muda!" tantang Pak Parno.

Panggung yang tadinya gelap, tiba-tiba saja berubah warna menjadi keemasan. Katiman muncul dan memberikan senyum bengis. "Ini gigiku!" Ya, katiman nyengir kayak kebo di sawah. Gigi kuningnya membiaskan cahaya emas bercampur bau napas naga. "Mwhahahaha ... Odol cap jengkol!"

Pak Parno, si pesulap sepuh mendadak mual sebelum akhirnya sang pembawa acara Heri Muter menghentikannya. "Hentikan, hentikan. Kepala saya jadi pusing, muter-muter tujuh keliling. Sekarang giliran anda Pak Parno."

Katiman duduk di kursi goyang Karawang. Menyilangkan kaki dan mulai memperhatikan aksi Pak Parno. "Buktikan kehebatanmu Pak!"

Cling ... Cling ... Cling ...

Panggung sulap yang tadinya gelap berubah menjadi terang, seterang cahaya lampu Philips.

"Gigi anda kuning? Ganti pasta gigi anda dengan Bayclin! Bayclin cara baru membuat gigi anda menjadi putih berkilau!" kata Pak Parno dan efek bintang bermunculan.

Heri Muter, kembali berdiri. Saking silaunya ia mengenakan kacamata riben dan ia kembali berorasi dan sedikit mengalami error. "Cukup Mas, eh Master Sepuh maksutnya. Sekarang kita masuki level kedua! Sekarang giliranmu Katiman!"

Sebelum Katiman menunjukkan aksi keduanya, tiba-tiba saja seorang wanita berperawakan gendut, berambut panjang merah fanta dan berpakaian serba hitam muncul di atas panggung. Katiman berdiri dan menghampirinya. Tanpa banyak tanya, wanita gendut itu di berikan sebuah cairan berwana hijau. 

"Baiklah, Nona, Aku tau kau pengen langsing dengan cara yang cepat. Pada hitungan ketiga, silahkan anda minum cairan ajaib ini," terang Katiman dengan gaya angkuhnya.

Perlahan para penonton yang hadir mulai berteriak serentak untuk mulai menghitung.

Satu! Dua! Tiga!

Karena di belakang panggung tidak di berikan minum oleh panitia, wanita itu tampak kehausan dan menenggak cairan ajaib tersebut sampai habis.

Jreng! Jreng! Jreng!

Dengan kecepatan cahaya, perubahanpun terjadi pada wanita itu. Ya, tubuhnya yang sebelumnya gendut berubah menjadi kutilang alias kurus tinggi langsing. Penonton terkejut, mereka tampak kagum dan suasana menjadi riuh. "Pakai Sunlight! Terbukti ampuh menghilangkan lemak dalam tubuh!"

Belum sempat sang pembawa acara naik ke panggung pertikaian, Pak Parno tampak emosi. Seakan tak mau kalah ia memunculkan seorang pria ke atas panggung. Pria tersebut berbadan gempal tapi sedikit loyo. Tanpa banyak narasi, Pak Parno memberikan sebuah cairan khusus berwarna putih. 

Tanpa panjang kali lebar kali tinggi lagi, Pak Parno mulai membaca mantra dan sang pria loyo mulai menyedot habis cairan magis yang diberikan oleh Pak Parno. Yaps, dengan tiga kali kedipan mata, pria yang tadinya loyo abis itu tiba-tiba menjadi sehat dan bugar.

"Nyot .. Di kenyot .. Nyot! Nyot .. Di kenyot! Susu real good, cara baru membangkitkan semangat anda yang sedang loyo!" kata Pak Parno, lalu setelah itu sang pria berlalu meninggalkan panggung diiringi dengan riuhnya tepuk tangan dari penonton.

Heri Muter tampak sedang mumet karena kebanyakan muter-muter kayak komedi puter. Ia kembali ke atas panggung. "Okay pemirsa! Saatnya kita memasuki babak pertempuran terakhir, dalam segment Simsalabim Abrahadabra!"

Para penonton semakin bergemuruh bagaikan ombak di lautan dan Katiman mulai bersiap untuk melakukan aksinya. "Harap tenang! Saya butuh konsentrasi!"

Yaps, Katiman mulai memejamkan mata, mulutnya berkomat-kamit membaca mantra. "Simsalabim!"

GRUBAKZ!

Ya, terdengar suara benda besar yang tiba-tiba saja jatuh dari angkasa. Sebuah mobil sedan warna merah cabai terlihat ringsek di atas panggung. Katiman panik, mobil cicilannya rusak dan penyok. Melihat itu, sang pesulap sepuh tertawa lebar sebelum akhirnya ia bangkit dari kursinya.

"Cuma segitu kemampuanmu? Mobilmu penyok! Mwahahahaha!" ledek Pak Parno lalu ia meminta sebuah kain hitam dan menyuruh asistennya menutupi seluruh bagian mobil tersebut dengan kain.

"Simsalabim Abrahadabra! Pul kipal kipul dagangan laris duit kumpul!" kata Pak Parno membaca mantra ajaibnya.

Sepintas terdengar suara ketukan-ketukan aneh berirama lagu yang berjudul naik delman. Lalu setelah itu kain hitam yang menutupi mobil perlahan di buka dan keajaibanpun terjadi. Mobil milik Katiman yang penyok parah, tiba-tiba saja kembali normal tanpa ada penyok dan lecet sedikitpun.

Sambil memegang erat tongkat warisan Kakek kura-kura, Pak Tarno dengan lantang berkata. "Mobil anda penyok dan bonyok? Hubungi segera Simsalabim bengkel ketok magic saya! Mobil anda yang penyok dengan secepat kilat akan kembali berubah menjadi kinclong, montok dan Semok!"

Dan semenjak pertarungan magic itu beban hidup Katiman menjadi bertambah karena harus membayar ongkos ketok magic pada Pak Parno.

Cerita ini bisa dibaca di : Simsalabim Abrahadabra!