Cerpen Badai dan Salju Santri Pesisir Part 2

        Angin yang berembus melalui celah-celah jendela menyapu wajahku yang menahan rasa gugup. Sejak dua hari yang lalu sebelum keberangkatanku aku merasakan desiran jantung yang berdebar-debar. Senang rasanya bahwa sebentar lagi aku akan bertemu teman-teman dari berbagai daerah untuk berjuang bersama masuk perguruan tinggi negeri. Aku yang sebelumnya belum pernah mondok alias merasakan kehidupan di pondok pesantren akan tinggal di suatu pondok Yogyakarta. Setelah diterima sebagai siswa yang dinyatakan lolos di BPUN Bantul Yogyakarta, aku terus memikirkan bagaimana hidup di lingkungan pondok pesantren yang terkekang dengan budaya antri dan mengaji mulai dari pagi, siang, sore, bahkan malam hari.
    “Puri, nanti kamu tahu rute kantor IPCNU Bantul nggak? Aku nggak tahu daerah Bantul”. Mba Faiqoh bertanya padaku sembari menunjukkan denah yang diberikan panitia lewat e-mail.
    “Kata temanku yang dari Yogyakarta sih nanti kita naik bus jurusan Pantai Samas. Tapi aku nggak tahu rutenya yang mana”.
    “Ya sudah. Nanti kita tanya sama bapak sopir atau bapak kenet aja di sana”. Susan yang juga lolos di BPUN Bantul memberikan saran.
        Aku kembali diam dan bermain dengan pikiran yang mengalunkan memori di otak. Aku senang akhirnya bisa mendapatkan bimbel gratis masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri) tetapi aku merasa sedih, Isna sahabatku yang tidak jadi ikut tes seleksi tidak bisa bergabung bersama kami di BPUN Bantul. Aku sangat bersyukur karena aku, Mba Faiqoh, dan temanku Susan lolos sebagai siswa BPUN Bantul dan teman sekolahku Ajeng diterima di BPUN Sleman.
        Malam kala itu masing terngiang di anak pikiranku. Melayang begitu saja dan mengalir mengarak bayangan-bayangan semu akan suasana sibuknya kegiatan di pondok pesantren di Yogyakarta.
    “Bu, dua hari lagi Puri berangkat ke Jogja. Perasaan Puri senang bisa diterima di bimbingan belajar gratis ini yang sudah Puri nanti-nantikan selama kerja. Tapi, Bu. Puri takut. Aku kan belum pernah mondok. Kalau di pondok nanti banyak hafalan nggak ya, Bu? Terus mandinya ngantri juga nggak ya? Tidurnya di lantai apa dimana ya, Bu”?
    “Sudahlah, Nduk. Nggak usah takut. Yang penting Puri kan sudah punya bekal ilmu agama, rajin mengaji sama Pak Kyai Imam Sam’ani. InsyaAlloh nanti di sana Puri juga dapat pengalaman baru, dapat teman-teman baru, dan yang penting niatnya itu kan belajar, meraih sukses untuk masa depanmu, Nduk”. Dengan membesarkan hati ibu membelai pundakku dengan lembut.
    “Iya, dek. Katanya ingin jadi guru. Nanti kalau sudah merasa nyaman belajar di pondok, besok kalau kuliah bisa sambil mondok. Bapak malah senang. Ilmu agamanya dapat, dunianya juga dapat. Yang terpenting akhlaknya tetap dijaga”. Bapak menimpali sembari membelai rambutku dengan rasa sayang dan penuh perhatian. Tak lupa dengan canda senyumnya selalu membuatku merasa kuat, tegar, dan nyaman.
        Perjalanan dari Kota Kebumen menuju Bantul membutuhkan waktu sekitar 5 jam. Sesungguhnya waktu yang dibutuhkan untuk menuju Kota Bantul hanya sekitar 4 jam. Namun, karena tidak paham dengan daerah Bantul, maka kami bertiga, aku, Susan, dan Mbak Faiqoh tersesat dan salah menaiki bus ketika hendak menuju ke kantor IPCNU Bantul.
    “Mbak Iqoh, nanti di pondok gimana ya. Aku belum pernah mondok nih. Kayaknya tampang-tampang teman-teman kita pondokan semua deh”. Kataku berbisik pada Mbak Faiqoh ketika hendak naik bus menuju Pondok Pesantren Al Mahali desa Watu Ageng, Imogiri, Kota Bantul.
    “Aku juga belum pernah mondok kali, Ri. Tapi wajah-wajah mereka kayak ank pondokan semua memang. Semangat…semangat…pokoknya. Kita nanti bisa belajar bareng mereka. Siapa tahu ketularan pintarnya.heee”. Jawaban Mba Faiqoh membuatku semangat kembali meraih tekad untuk belajar lebih keras dan menimba ilmu agama di Pesantren Al Mahali kelak. Melupakan sejenak kenangan pahit ketika di dunia pekerjaan yang secara lahir dan batin belum siap untuk kuhadapi tetapi telah berhasil kulewati.
    Berbeda dengan Susan. Susan tampak begitu tenang ketika dirinya juga belum pernah mondok. Susan juga lulusan tahun lalu. Namun, waktu satu tahun dia manfaatkan untuk mengikuti bimbel masuk PTN di GO (Ganesha Operation). Susan seakan tidak takut menghadapi dunia pesantren yang dia sendiri juga belum pernah merasakan kehidupan di pondok pesantren.
{Bersambung}

Cerita ini bisa dibaca di : Cerpen Badai dan Salju Santri Pesisir Part 2