(Humor) Kasih Sayang Ibu

Disuatu daerah ada seorang anak yang bernama Fizna. Ia adalah seorang anak seperti pada umumnya. Baik, ceria, suka bermain, dan apabila Ibunya minta tolong, ia akan membantunya dengan senang hati. Meskipun dalam keadaan fisik, Fizna tidaklah sesempurna seperti anak pada umumnya. Semua anggota tubuhnya utuh, tidak ada yang kurang atau lebih, baik secara indrawi maupun rohani, Fizna adalah anak yang normal.

Akan tetapi, pada suatu masa ketika ia masih mulai belajar merangkak, Fizna kecil mulai bisa melangkahkan kaki dan tangannya. Dan beberapa hari kemudian, akhirnya Fizna kecil bisa merangkak sekehendak sanubarinya. Ia merasa begitu senang, bisa menguasai bagaimana cara merangkak seperti yang dilakukan anak seusianya.

Sejak saat itu, merangkak menjadi suatu aktivitas yang paling disukainya. Bagaimana tidak, pada pagi hari setelah bangun dari tidur, ia selalu merenggangkan setiap sendinya. Menggeliat ke kiri kemudian ke kanan. Masih dikasur tidurnya yang empuk ia mulai beraktivitas melakukan kewajibannya untuk belajar dan mengasah keterampilannya dalam merangkak.

Bagi Fizna merangkak bukanlah suatu kewajiban yang memberatkannya dalam hidupnya. Justru dengan adanya aktivitas merangkak tersebut, ia jadi bisa bergerak menjelajahi dunianya. Dunia yang luas dan indah. Tidak hanya berdiam diri dikamar yang keadaannya hanya begitu saja, tidak ada hal baru yang menarik. Monoton. Jadi,Fizna kecil memasukkan aktivitas merangkak kedalam hobinya, bukan kewajibannya.

Seperti biasa, sebagai seorang Ibu, dipagi hari Ibu Fizna melaksanakan tugasnya untuk memasak. Mempersiapkan makanan untuk sarapan keluarganya. Sebelum itu, Ibu Fizna mencium kening buah hatinya yang tengah tertidur nyenyak didalam kamarnya dengan alas tidur sebuah kasur empuk miliknya. Sedangkan ayahnya, yang berprofesi sebagai kuli bangunan, harus berangkat bekerja dipagi-pagi buta. Mengumpulkan pundi-pundi lembaran berharga untuk keberlangsungan hidup keluarganya. Dipagi hari, sinar mentari menyusup masuk melewati lubang-lubang kecil pada genteng rumah mereka. Diantara sinarnya, ada satu yang menyorot kearah kelopak mata Fizna kecil yang tengah tidur terlelap. Hingga beberapa saat kemudian Fizna kecil terbangun dari tidurnya. Ia memicingkan matanya beberapa kali karena sorotan mentari yang mengenai langsung kearah bola matanya.

Ah, pagi. Aku berjumpa dengannya kembali. Hal pertama yang teringat oleh Fizna kecil adalah merangkak, merangkak, dan merangkak. Ia ingin mencoba menjelajah dunia barunya. Dengan segenap keberaniannya, ia mulai beraksi. Meninggalkan kasur empuk miliknya dan keluar dari kamar tidur.

Bebas, Aku bebas. Akhirnya Aku bisa melihat keindahan paronama diluar kamar tidur. Masih dengan segenap semangat yang diberikan seberkas sinar mentari pagi, ia melangkahkan kaki dan tangannya dengan luar biasa cepatnya. Layaknya seekor harimau yang hendak menerkam mangsa yang ada didepannya.

Suara yang tercipta karena benturan antara kedua lututnya dengan lantai terdengar meledak-ledak. Dug jedug dug jedug dug jedug. Hingga tanpa disangka-sangka, hal yang seharusnya tidak terjadi malah terjadi. Fizna kecil terhenti dan ambruk dalam keadaan tengkurap.

Ia menjerit keras. Ibu Fizna yang berada jauh dari ruangan tersebut sampai bisa mendengar jeritannya. Spontan, naluri keibuannya aktif. Dengan segera ia menuju ke kamar tempat anaknya tertidur, memastikan keadaan anaknya baik-baik saja dan meninggalkan begitu saja sayur-sayuran yang sedang dipotong sebagian.

Dikamar tidak ada, kemana kau nak. Ibu Fizna dengan segera mengikuti alunan suara tangis itu. Ibunya tak menyangka kalau lokasinya bisa jauh dari kamar. Ia jadi berfikiran yang tidak-tidak. Jangan-jangan anakku diculik. Ah, perasaan khawatir dan takut menyebar ke-inti jiwanya. ketenangan Hati menjadi sirna seketika.

Dan ia menemukan anaknya sedang tergeletak diruang tamu sendirian dan berteriak-teriak kesakitan. Nak, cup cup cup. Diam Fizna.tenang Ibu disini akan menjagamu. Ibu Fizna mencoba menenangkan anaknya, walaupun sebenarnya dia sendiri sedang diliputi kecemasan, kekhawatiran tentang keadaan dan suhu tubuh anaknya yang meningkat drastis.

Ibu Fizna segera menggendong anaknya dan bergegas menuju klinik terdekat untuk mengecek keadaan Fizna.

Tenang bu, Anak ibu baik-baik saja kok. Tak ada perlu dikhawatirkan. Dan mengenai kaki Anak ibu yang membiru, ini akan berangsur pulih seiring berjalannya waktu. Ucap Dokter.

Baik Dok. , Balas Ibu.

Sang Ibu pun merasa begitu senang mendengar pernyataan pak dokter. Setelah sampai dirumah Fizna sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Ia bisa merangkak kembali bahkan sudah nampak semakin lihai saja. Ibu Fizna merasa curiga setelah melihat Fizna sudah bisa merangkak kembali, padahal bekas yang membiru tersebut berada pada lututnya.

Lantas, Ibu Fizna memeriksa lutut Fizna.

Warnanya kok aneh.

Coba kusentuh.

Dia tidak merasa sakit.

Coba kusentuh sedikit keras.

Hah, Dia tidak merasa sakit.

Bener, ada yang aneh disini.

Lantas Sang Ibu mengambil air dan mencoba membersihkan bercak ungu pada kaki anaknya. Dan apa yang terjadi. Noda itu hilang.

Ah, sial aku dikibulin.

Cerita ini bisa dibaca di : (Humor) Kasih Sayang Ibu