Sayap yang patah (curcol)

“bu , tolong bukain” Sya anak usia 7 tahun itu berlari menghampiriku dan menyodorkan sebungkus Chiki  untuk di bukakan. 

“Lhoo..kok bawa bekalnya Chiki  mbak sya? Bukannya gak boleh” tanyaku menerima Chiki itu.

“Ibu gak masak Bu”jawabnya tersenyum memperlihatkan dua gigi depannya yang tanggal.

“Lha kenapa?”

“Gak tahu”jawabnya polos.

“Besok minta ibu masakin ya..jangan bekal Chiki”kataku mengunting bagian atas bungkus Chiki itu.

“ibu masih kerja?”tanyaku menyodorkan Chiki pada Sya.

“ibu di rumah Bu” sedikit banyak aku sih tahu cerita tentang ayah dan ibu Sya karna kebetulan Tante Sya ngajar di sebuah sekolah

 dekat sekolah ini.

“ayah Sya di Jogja?”pancingku. Sya menggeleng.

“Ayah kerja di Semarang Bu”

“Wahh berati tiap Minggu pulang?”

Sya menggeleng”kata ibuku pulangnya kalau aku udah kelas 6 bu”

“Wahh kok lama?”

“kata ibu, ayah cari uang yang banyak buat beli sepeda”celotehnya dengan riang dan antusias mungkin Sya membayangkan ayahnya pulang dan membawa sepeda baru yang dia idamkan tanpa tahu yang sebenarnya.

Yah.. sebenarnya ini gak baik sih untuk di share hanya saja ini sekedar cerita dari orang awam yang minim pengalaman , menurut pendapatku bahwa sebuah perpisahan atau perceraian itu akan berdampak pada  anak, anak yang akan menjadi korban itu sudah pasti. Kita tidak tahu, Sya mungkin saja tidak sadar jika menunggu sampai dia kelas 6 itu butuh waktu yang lama bukan hanya hitungan hari tapi tahun. Dan aku tidak tahu bagaimana nantinya Sya selama 4 tahun tidak bertemu sang ayah, entahlah bagaimana dia akan menjalani harinya tanpa figur ayah komunikasi lewat ponsel atau media sosial saja tidak bisa mengalahkan sentuhan dan pelukan nyata seorang ayah. Nasehat seorang ayah setiap hari itu ibarat lagu yang menenangkan hati .

Aku tidak tahu dan tidak mau tahu apa alasan orangtua Sya berpisah. Tapi jika memang HARUS berpisah tidakkah lebih baik menjelaskan pada  Sya yang sebenarnya walaupun dijelaskan pun dia tidak mengerti. tentu saja dengan cara yang lembut dan hati-hati . Tidak menciptakan kebohongan demi kebohongan. 

Mungkin Sya belum tahu arti sebenarnya dari kalimat 'pulang kalau aku sudah kelas 6 nanti' tapi seiring waktu dia akan tahu dan akan terus bertanya. Dan tidakkah akan lebih menyakitkan ketika dia tahu yang sebenarnya ketika dia sudah mengerti dengan keadaan yang sebenarnya. Ahh entahlah ! Mungkin mereka punya pertimbangan sendiri. 

Yang pasti perpisahan orangtua itu akan berdampak pada anak bukan hanya secara psikis. 

Anak seusia Sya masih butuh kasih sayang kedua orangtuanya. Apalagi seorang anak perempuan. Ayah adalah cinta pertama anak perempuan. Ayah yang akan memberi tahu bagaimana bersikap kepada seorang pria. Ayah adalah super hero bagi seorang anak perempuan yang memberi rasa aman. Dan ketika mereka kehilangan itu..rasanya akan menyakitkan . Seperti sepasang sayap yang patah sebelah. Tidak seimbang.

Seorang anak tidak hanya butuh kasih sayang seorang ibu tapi juga ayah.

Kenapa aku bisa berkata demikian?karena aku pernah mengalami hal yang sama seperti Sya walaupun berbeda kisah.

Jadi tahukan kenapa aku lebih menyukai yang lebih tua (gak tua-tua juga sih) haha ah bicara apa aku ini lupakan!

***

Hanya sekedar cerita tanpa bermaksud menyinggung siapapun. Nama di samarkan.

Selamat akhir pekan

Gambar:@jennifferogres34/PicArts






Cerita ini bisa dibaca di : Sayap yang patah (curcol)