Tinggalkan Cerita Masa SMA dan Kampung Tercinta, Merantaulah..!!

“Masing-masing sudah terseret kepentingannya sendiri-sendiri atau tersihir kemewahan duniawi?”. Begitulah kiranya pertanyaan ini sering muncul saat semua tak seperti biasanya. Saat dimana setiap hari adalah bayangan hari esok; Pekerjaan Rumah (PR) yang terkadang dikerjakan di Sekolah, tugas individu yang terkadang dikerjakan bersama-sama, atau mungkin ketakukan terhadap mata pelajaran yang tak menjadi kesukaan.

Bulan Mei itu, mungkin menjadi ujian terakhir selama tiga tahun belajar menuntut ilmu di Sekolah Menengah Atas. Tetapi, tetap saja dalam hati kecil ini berbicara bahwa masih banyak lagi ujian-ujian yang lebih berat berikutnya. Ada yang bertempur dengan belajar, membuka buku pelajaran lagi demi melanjutkan mimpi, menuntut ilmu masuk perguruan tinggi. Ada yang lebih hebat dari bertempur dengan belajar membuka buku pelajaran lagi, dialah yang bangun pagi lebih cepat dari biasanya seraya memohon doa agar diberikan pekerjaan yang halal baginya. Bayangkan saja, disaat banyak anak-anak yang melanjutkan kuliah dengan mengeluarkan biaya orangtuanya, ia justru berniat bekerja dengan bangga agar bisa menambah biaya demi berobat ibunya, mulia sekali.

“Bekerjalah, karena harga diri laki-laki adalah dengan bekerja dan bekerja adalah hal yang mulia” nasihat oleh Pramoedya Ananta Toer. Bekerja, belajar, dan berkarya bersama hati, Insya Allah semua akan berarti.

Di tengah perbincangan terakhir bersama sahabat atau kawan-kawan kita, tentu kita berpesan agar tak saling melupakan, jika sudah berhasil jangan tengil, jika sudah sukses jangan hanya berkabar lewat sms, jika sedang kecewa jangan lupa kita pernah tertawa bersama, jika sedang sedih jangan lupa kita sudah berjuang dengan gigih, jika kita bahagia jangan lupa bahagia yang sekadarnya saja, sebab bahagia tak selalu ada dan senang itu hanya sementara. Bersyukur dengan dan dalam apa saja kepada-Nya jauh lebih berharga dari dunia dan seisinya.

Dunia perantauan sudah sampai di pelupuk mata. Hiruk pikuk, sepi, sunyi, dan sederhananya kehidupan desa tercinta tak akan lagi terasa hingga datang masanya tiba. Seberat dan sepahit apapun dunia perantauan harus kita hadapi, seperti pesan Imam Syafi’i, “Merantaulah, orang yang berilmu dan beradab, tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan kampung halamanmu dan merantaulah!”.

Seperti kata Banda Neira; Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Barangkali saat ini kita sudah dianggap patah oleh mereka yang tak mau lagi kenal dengan kita. Entah karena kita masih sederhana dalam hal apa saja yang jauh dari kemewahan dunia, percayalah kita bisa tumbuh dengan cinta dan cita-cita. Barangkali kita sudah hilang dari ingatan mereka. Entah karena ingatan mereka sudah berganti dengan hal-hal yang menurut mereka jauh lebih berarti.

Kita yang masih sia-sia, semoga kelak menjadi generasi yang lebih bermakna dari generasi sebelumnya. Selamat menggapai cita-cita mulia dengan bekerja atau berkuliah kawan-kawan semua. Kita adalah muda, berbeda, dan mendunia. Dengan kesederhanaan semoga sanggup menerjang kerasnya peradaban, dalam kesederhanaan ini semoga keberkahan selalu menghampiri.


Juli Menjelang Agustus 2018

-Diki Mardiansyah


Cerita ini bisa dibaca di : Tinggalkan Cerita Masa SMA dan Kampung Tercinta, Merantaulah..!!