Cicicuit Jemari

Sudah berapa hari aku tidak memposting tulisan di PlukMe!, ya? Hem… Mungkin sudah lama? Hahaha ini jelas banget kalau aku males mengingat. Kata temen aku, yang sudah berlalu ya sudah lah ya… (curcol, padahal nggak nyambung). By the way, aku tuh sebenernya masih bingung mau nulis topik apaan. Seharusnya sih banyak ide-ide ya, tapi aku merasa masih buntu aja gitu. Mengingat sudah banyak waktu yang berlalu begitu saja tanpa kugunakan sebagaimana mestinya, juju raku merasa bersalah pada diri sendiri. Itu sebutan lebih mendingan dari menyesal bagiku. Wkwkwkwkwk (yak, skip).

Warning ya, tulisanku bakal nggak jelas banget ini, jadi mohon keikhlasannya untuk memaafkan daku… U,U

.

.

.

.

.

Terus aku mikir lagi.

Ah elah, emang siapa aku? Sok iye banget yekan. Aku sedang menghibur diri sendiri kok, dengan menipu diri. Ceilah, aku penipu ternyata. Yup!

Jika diantara plukers ada yang merasa dirinya tidak (eh, belum) melakukan hal yang berguna bagi diri sendiri terutama dan keluarga pastinya, juga nusa dan bangsa lebih luasnya, tenang! Setidaknya kamu sadar akan letak titik minus yang ada pada diri. Banyak orang, manusia, yang berkeliaran di muka bumi ini dengan langkah pongah nan sombongnya yang tidak menyadari betapa mereka tidak menyadari kekurangannya. Jadi, kalian-kalian yang terus merasa tidak berguna, please jangan terlalu merutuki diri. Ketika kita tahu dimana letak kekurangan kita, bukankah hal baik yang harus segera kita lakukan adalah berusaha untuk merapikan hal-hal yang berantakan di dalam hidup kita?

Contoh simpelnya, jika kita terlalu sering bangun siang, esoknya berusaha untuk tidur lebih cepat setelah aktifitas selesai dan tidak tidur selepas subuh, melakukan hal-hal kecil sembari membunuh waktu sebelum aktifitas besar dimulai.

Jika pagi kita sudah tertata, kemungkinan besar siang, sore dan malamnya juga akan berjalan lebih baik.

Sudah sekian hari, aku menjadi manusia yang hanya bisa merenungi hal-hal yang dulu pernah kulakukan, lalu menyesal dan merutuki diri. Mengingat agenda yang sudah direncanakan, namun kemudian gagal. Sedih? Bohong kan kalau aku bilang,

“Nggak tuh, aku nggak sedih. Kan kita hanya bisa merencanakan, sementara Tuhan yang menentukan.”

Hello… sedih boleh kok. Justru orang yang selalu berusaha menepikan rasa sakit itu, lama-lama bisa meledak loh. Semua memiliki porsinya masing-masing. Jika porsi air matamu dua solki, maka tawa renyahmu sebagai bentuk ekpresi bahagia harus sekeras speaker hajatan tetangga. Riuh, ramai.

Jadi, ayo bangkit. Aku ingin merangkai kata demi kata yang bisa menjadi suatu kalimat kemudian paragraf yang mampu menampar telak di pipimu (sadis, O.O ). Meninggalkan bekas merah yang terasa panas perih clekit-clekit gitu, biar mantep. Dengan harapan, kalian juga akan melakukan hal yang sama ketika aku hanya bisa mengurung diri dan menyesali segala hal yang tidak berjalan sesuai kehendak rencana.

Atau bagi kalian yang merasa sendiri, tidak tahu harus bagaimana membagi gundah dan gelisah, seperti aku, tulislah apapun itu. Berantakan? Who’s care? Kita menulis untuk kita, kalau ada yang suka ya syukur, enggak ya nggak papa. Yang penting jangan sampai tulisan kita menyakiti perasaan orang. Gimana dong?

Ya tulis aja apa yang ingin kamu tuangkan. Buang semua yang meresahkan pikiran kedalam layar monitor atau buku, jika tidak ingin dipublish.

Sekarang banyak kan ya, manusia-manusia yang menulis di status akun sosial media mereka yang isinya curhatan, bahkan menyindir pihak lain. Please deh, itu nggak keren. Believe me!

Tulislah apa yang pantas jika ingin dipublikasikan. Jadilah insan yang bijak dimanapun kita berpijak. (Quotenya bagoes ya, wihihihi…. >,< )

Ini bukan motivasi, tapi semoga termotivasi.

Eh, eh, eh, kok sudah banyak ya? Sudah lewat angka 500 hlo, daripada bosen, lebih baik kita bertemu lagi di post-berikutnya, dan mari kita sudahi kegajean ini.

Betewe, makasih.




Cerita ini bisa dibaca di : Cicicuit Jemari