Cerita Horor: Gadis Gagal Revisi

Hai teman-teman semua, bertemu lagi denganku, Ridha Eka Rahayu dalam acara-a-a, e-eh dalam cerita hantu. Baiklah, kali ini Ridha akan menceritakan kisah tentang kost yang di tempati selama kuliah. Kost tersebut terletak di daerah Cibiru, dekat dengan kaki gunung Manglayang yang selalu sepi menjelang malam hari.

Sudah lebih tiga tahun, aku menempati kost di daerah tersebut. Kost terdiri dari dua lantai dengan balkon yang sejajar dengan pintu masuk di lantai satu. Kamarku terletak di lantai dua. Jadi, ketika malas turun ke lantai satu untuk memesan jajanan keliling atau memanggil teman, biasanya aku menuju balkon di lantai dua sebagai alternatif. Memang terkadang kurang sopan, hingga akhirnya aku harus ke lantai satu pada saat-saat tertentu.

Kamarku bersebelahan dengan balkon lantai dua. Biasanya balkon tersebut aku gunakan sebagai tempat untuk membaca dan bersantai di siang hari. Makanya, aku sengaja menaruh bangku plastik disana. Sejak awal tinggal di kost ini, aku selalu merasa ada yang memperhatikan. Duh, senangnya di perhatikan. *Hehe. Tapi bukan di perhatikan manusia. Tapi karena aku orangnya *cuek dengan hal-hal gaib, maka selama tinggal di kost ini aku merasa biasa saja menghadapi si pemerhati.

Pada bulan April 2017, temanku dari Bekasi berkunjung ke kostku untuk bersilaturahim. Malam ini, dia ingin menginap di kostku. Sebelumnya sudah ijin kepada ibu kost dan di ijinkan olehnya. Pada malam harinya, temanku bercerita panjang lebar dan tertawa keras sekali. Tiba-tiba ada angin bertiup cukup kencang sehingga sapu yang menggantung di samping pintu terjatuh. Temanku langsung terdiam. Saat itu posisi pintu sedang terbuka, temanku seperti orang ketakutan. Aku heran dengan tingkahnya, padahal aku merasa biasa saja, tidak ada yang aneh.

Mungkin saja angin malam bersemilir cukup kencang sehingga menjatuhkan sapuku ke lantai. Aku keluar kamar, mengambil sapu yang terjatuh dan menggantungkan kembali di tempat semula. Temanku tiba-tiba menangis dan meminta pintu kamarku di tutup. Aku menuruti permintaannya, lagi pula memang sudah malam. Waktu telah menunjukkan pukul 00:13 WIB, sudah tengah malam. Seharusnya aku sudah tidur.

Kulihat temanku tidur di pojok kasur seperti orang ketakutan, meringkuk gemetaran sambil menangis. Aku bingung dengan sikapnya malam ini. Namun, karena aku sudah mengantuk berat, aku biarkan saja, mungkin dia sedang rindu dengan seseorang. Keesokan harinya, pada saat akan mengantarnya ke terminal, aku menemui ibu kost untuk pamit dan berterima kasih karena sudah mengijinkan temanku menginap. Wajah temanku pucat, kurasa dia belum makan. Namun, aku heran, dari semalam dia terus menangis seperti orang ketakutan. Aku berusaha menenangkannya. Ibu kost mempersilakan kami masuk ke rumahnya. Dia heran melihat keadaan temanku.

“Neng kenapa?”.

Temanku masih terdiam, tatapannya kosong. Aku menjadi takut.

“Nggak tahu, Bu dari semalam menangis terus. Padahal saat baru sampai di kamarku dia ceria sekali sampai tertawa keras. Terus saat sapuku jatuh, dia langsung diam dan menangis”.
“Jadi semalam si neng ini yang tawanya keras?”

Ibu kost mulai curiga, aku khawatir dia akan memarahi temanku.

“Iya, bu. Maafkan temanku. Soalnya dia cerita lucu banget. *Hehe” Aku mencoba mencairkan suasana.
“Ada cewek melototin aku, bu. *Huhu” temanku angkat bicara sambil menangis sesenggukan.
“Oh, pantesan”.
“Kenapa, bu?” tanyaku penasaran.
“Gadis marah sama temanmu”.
“Gadis?!” ujar kami bersamaan.

“Sekitar sepuluh tahun yang lalu, ada mahasiswa semester akhir, namanya Neng Tiwi yang menempati lantai dua samping kamar neng Ridha. Dia pernah cerita sama ibu, skripsinya selalu di revisi sama dosen, di persulit gitu. Padahal teman seangkatannya sudah pada lulus semua. Jadi, dia putus asa. Saat malam harinya dia loncat dari balkon lantai dua. Ibu sampai kaget dan histeris melihatnya. Sejak kejadian itu, warga sekitar sini sering memanggilnya gadis gagal revisi. Ibu sampai tertawa mendengarnya. *Hehe” cerita ibu kost.

“Jadi, selalu jaga sikap ya?” lanjutnya memberi nasihat.

Sore hari, menjelang maghrib, setelah mengantar temanku ke terminal Leuwi Panjang. Aku menuju ke kamarku. Sekilas kulihat seorang gadis duduk di bangku plastik milikku. Saat aku dekat dengan pintu kamar, dia bersembunyi di balik dinding balkon.

“Sepertinya dia malu, atau ingin mengajakku bermain petak umpet ya? *Hihi” pikirku.

Pesanku untuk semua, selalu menjaga sikap dimana pun dan kapan pun. Karena tidak hanya manusia saja yang akan merasa terganggu dengan sikap buruk kita, tetapi juga makhluk dari dunia lain. Kita tidak akan tahu, dimana saja tempat mereka tinggal. Jadi, waspadalah, waspadalah. Salam kenal semua, yuk mampir ke facebook dan Instagramku. Siapa tahu dapat doorprize. *Hehe.

Oleh: Ridha Eka Rahayu
Facebook: Ridha Eka R
Instagram: @ridhaekarahayu

Cerita ini bisa dibaca di : Cerita Horor: Gadis Gagal Revisi

YOUR REACTION?