Hujan, Quo Vadis

hujan belum juga tuntas

menulisi lapis2 malam dalam paragraf ke entah

katanya, ada perempuan menunggu

aku tak gampang percaya itu

karna kutau ia tak rindu

bahkan mengingatku sebelum tidurpun tak tentu

sudah jujur aku mengaku

bahwaku memang merindu

meski harus melawan malu

jadi..

mending tunggui hujan saja hingga muncul matahari

dan aku jadi tau diri

tak ada sesuatupun dariku tuk dirindui

meski seperti ini resahnya hati

aku percaya apapun ini

adalah terjemahan percakapan hati

yg manusia lain tak mengerti

Cerita ini bisa dibaca di : Hujan, Quo Vadis

YOUR REACTION?