Lila, Aku Lila #2

Tak pernah bosan aku mengingat kisah kami berdua. Ketika dia jatuh dari motor saat musim hujan satu tahun yang lalu. Tangannya luka tapi dia tetap tersenyum menyambutku yang datang dengan kepanikan level atas. Seolah tidak ada yang terjadi dia bertanya padaku “Siapa yang sakit? Kok mukanya panik gitu?”


Ketika dia tiba-tiba mengirimkan voicenote suara dia yang menyanyikan lagu Sheila On 7 yang berjudul “Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki” untukku. Dia mengirimkan voicenote itu ketika dia sedang PKL di Jakarta untuk menghiburku yang sedang pusing kala itu. Bukannya terharu dan merasa diistimewakan olehnya, justru aku tertawa terbahak-bahak mendengar suaranya yang cempreng dan medhok.


Aku juga masih ingat ketika gerhana bulan tahun lalu, kami sama-sama melihatnya dengan jelas walaupun di tempat yang berbeda. Saling berkirim foto pelangi, dan saling pamer foto dengan tubuh basah kuyup terkena air hujan. Kami selalu beranggapan, siapa yang hari itu berani menerjang hujan, dialah pemenangnya. Kisah tentang apa saja yang ada di langit tidak akan ada habisnya menyelimuti kisah sederhana ini.


Melihat dia tersedak saat menyelam di Pongok adalah puncak kekhawatiranku akan dirinya. Wajah pucat dengan mata merah, mirip seperti monster yang siap menelan siapa saja yang mengganggunya. Aku menepuk punggungnya berkali-kali, tapi tubuh ringkihnya justru memerah karena tepukanku. Bukan tersedak lagi yang dia hiraukan, tapi nyerinya pukulan hasil kepanikanku. Bahkan dengan situasi yang seperti itu, dia masih saja tertawa melihat kepanikanku.


Aku juga masih ingat ketika dia marah besar sampai tidak menghubungiku selama seminggu gara-gara aku nekat nonton konser sampai larut malam. Aku tahu niat dia baik, tapi terkadang sifat posesifnya juga sering membuat aku bosan. Walaupun aku tahu dia selalu menginginkan yang terbaik untukku.


Kenangan manis satu persatu kami rajut bersama. Mungkin kalau ditulis sudah menjadi satu novel roman. Tapi, bak istana pasir yang sudah susah payah kami buat bersama hancur sedikit demi sedikit, terkikis ombak yang semakin naik ke permukaan. Tiga bulan terakhir Roy bukan Roy yang aku kenal dulu. Bukan sosok lugu penuh kekonyolan lagi. Tapi beralih seratus delapan puluh derajat. Keluguannya berubah menjadi acuh tak acuh.


Selama tiga bulan terakhir aku selalu berusaha mengontrol emosiku dan mencoba mengalah untuk tidak protes terhadap sikapnya yang aneh itu. Semakin lama, aku justru ikut cuek padanya. Hampir dua minggu kami tidak ada komunikasi sama sekali. Aku sibuk dengan pekerjaanku, dan aku menganggap dia juga sedang disibukkan oleh pekerjaannya.


“Tok.. tok..”


Pandanganku beralih ke pintu kamar yang ternyata diketuk oleh Ibu. Bukan ekspresi heran yang dia berikan untukku, justru senyum hangat yang selelu sukses membuat aku makin hanyut dalam situasi ini.


“Ibu kok belum tidur?”


Aku bangkit dari rebahanku. Aku mengusap pipiku yang basah. Aku tahu, Ibu pasti melihat tingkahku ini. Dan walaupun aku tidak melihatnya, aku masih bisa merasakan kehangatan senyumannya.


Ibu duduk di sampingku, dan mengusap kepalaku. Seketika aku merasa kembali berusia lima tahun yang siap didongengi oleh Ibu. Tapi, Lila tetap Lila yang berusia seperempat abad. Bukan dongeng yang akan aku dengarkan sekarang dari bibir tipis Ibu, tapi pelajaran kehidupan yang sesungguhnya.


“Bu?”


Ibu hanya memberikanku isyarat lewat matanya bahwa dia siap mendengarkan ceritaku. Meski aku  cukup gugup, tapi entah kenapa mulutku serasa terlepas dari borgolan.


“Kenapa Ibu merelakan Ayah pergi, Bu?”


Pelukan Ibu selalu saja hangat. Aroma tubuhnya menghipnotisku untuk mendengarkan semua cerita yang akan keluar dari mulut Ibu.


“Karena Ibu sangat mencintai ayahmu. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain melihat orang yang paling Ibu sayang bahagia.”


“Lila tidak mengerti, Bu.”


“Mencintai bukan tentang memiliki, Lila. Mencintai adalah tentang merelakan. Satu, rela menjalin hubungan dengan orang yang kita sayang apapun kekurangan dia. Dua, rela melihat orang yang kita sayang bahagia bersama orang lain. Dan Ibu memilih rela yang kedua. Ibu sempat merasakan kerelaan yang pertama dan Ibu bahagia dengan kerelaan Ibu itu. Kebahagiaan Ibu yang kedua adalah memiliki kamu. Buah cinta dari Ibu dan Ayah. Buah hati dari Ibu dan cinta pertama ibu. Kamu tahu apa kebahagiaan Ibu yang ketiga?”


“Lila tidak tahu, Bu.”


“Kebahagiaan Ibu yang ketiga adalah melihat ayahmu menemukan pasangan hidup yang sesungguhnya. Ayahmu dan budhe Laras adalah pasangan hidup yang ditakdirkan Tuhan. Katamu apa yang disatukan Tuhan kan tidak bisa dipisahkan manusia toh? Ibu tidak sehebat Tuhan yang bisa mengubah takdir.”


“Ibu menyerah dengan cinta Ibu sendiri?”


Cerita ini bisa dibaca di : Lila, Aku Lila #2