SURAT UNTUK LANGIT [ Bagian Keduapuluh Satu]

Dear Langit,

Apa kabar?
Aneh sekali, rasanya terlalu sering aku bertanya tentang kabarmu. Mungkin saja, kamu akan memasang tampang jengkel setiap kali membaca pembukaan suratku.

Tentu saja, mana ada orang yang betah begitu lama-lama, secara terus-menerus direcoki dengan sarapan roti selai strawberry setiap hari.

Enggak banget, kan? Ngbosanin kalau istilah anak remaja zaman sekarang.

Tapi, rasanya aneh saja tiba-tiba menghilangkan kebiasaan yang susah payah aku bangun begitu lama. Menanyakan kabarmu tentu saja. Dan mengetahui bahwa kamu masih sempat membalasnya, meski kamu selalu bilang tidak cukup baik. Aku merasa itulah hal terbaiknya.

Aku masih diberi kesempatan untuk membaca balasan suratmu, Lang!

Istimewa, luar biasa! Inilah hidup sebenarnya.

Ngomong-ngomong soal balasan surat, aku mengirimkan email-email aku setiap hari di waktu dan jam-jam tertentu. Yang kurasa saat itu kamu akan membuka emailmu, Lang!

Aku terlalu kepo atau gampang menduga-duga, ya? Terserah kamu, deh, menganggap aku seperti itu. Aku enggak peduli-peduli amat, asal yang mengatakan itu kamu.

Aku gombal jadinya, mendadak sok manis gini rasanya, kayak bukan aku. Tapi, sungguh, beneran, deh, aku bahagia tiap kali kamu balas emailku.

Bicara tentang akhir-akhir, terimakasih hanya bersedia membacanya. Setidaknya, itu bermakna berbeda dibandingkan dicuekin sama sekali.
 
Dari mana aku tau kalau kamu membuka pesanku? 

Aku bukan mata-mata, tentu saja. Aneh saja rasanya, tiba-tiba membayangkan diriku ke mana-mana membawa kaca pembesar. Menarik perhatian sekali, aku tidak suka, Lang!

Aku masih ingat dulu, saat terjadi asyik di keramaian aku kehilangan pegangan dari tanganmu dan membuatku harus tersesat berjam-jam.

Jangan tanya, bagaimana rasanya hari itu membuat tampang tidak enakku, menjadi semakin tidak enak.

Apalagi, aku semakin takut keluar rumah dan bertanya-tanya apa aku berada cukup dekat dengan masyarakat?

Membayangkannya saja sekarang, itu mustahil dan tampak bingung. Tapi aku harus menghormati segala hal tersebut.


Lang, sepertinya aku sudah sangat ngantuk. Sampai ketemu besok.

Bima 11 July 2018
***
Pixabay.com

Cerita ini bisa dibaca di : SURAT UNTUK LANGIT [ Bagian Keduapuluh Satu]